Ilmu pengetahuan dan teknologi
(IPTEK) dari tahun ke tahun bertambah maju dan berkembang sangat pesat yang
ditandai dengan berbagai penemuan. Kemajuan IPTEK tersebut, juga berpengaruh
terhadap kemajuan teknologi di subsektor peternakan. Perkembangan IPTEK di
bidang reproduksi ternak misalnya telah memberikan dampak kemajuan di subsektor
peternakan terutama dalam meningkatkan produktivitas ternak. Perkembangkan
teknologi di bidang reproduksi ternak diawali dengan pemanfaatan teknologi
inseminsi buatan (IB), kemudian transfer embrio (TE), dan saat ini telah
dikembangkan teknologi prosessing semen, fertilisasi in vitro,
teknologi criopreservasi gamet, pembentukan ternak transgenik, cloning
dan pembentukan ternak chimera. Upaya pengembangan dan pemanfaatan
teknologi reproduksi ternak tersebut perlu dukungan peralatan yang memadai dan
dana yang cukup serta tenaga ahli yang terampil. Aplikasinya oleh petani
peternak di Indonesia baru sampai pada tahap inseminasi buatan (IB) dan
transfer embrio (TE).
Di negara maju telah lama di
kembangkan teknologi reproduksi Inseminasi Buatan (AI, Artificial
Insemination), Transfer Embrio (TE, Transfer Embryo), yang kemudian
terus berkembang ke teknologi prosessing semen (pemisahan spermatozoa X dan
Y), Fertilisasi In Vitro (IVF, In Vitro Fertilization),
teknologi Preservasi dan Criopreservasi gamet (spermatozoa dan
ova) dan embrio. Saat ini sedang dikembangkan teknologi rekayasa genetik untuk
menghasilkan klon-klon ternak unggul yang meliputi transfer gen, pemetaan
genetik, cloning, chimera, dll. Penemuan-penemuan teknologi di
bidang reproduksi ternak tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengatasi
masalah-masalah dan tantangan yang dihadapi subsektor peternakan terutama dalam
meningkatkan populasi, produksi dan produktivitas ternak baik secara kualitas
maupun kuantitas. Dalam tulisan ini akan dibahas tentang teknologi inseminsi
buatan (IB), transfer embrio (TE), teknologi prosessing semen,
fertilisasi in vitro, teknologi criopreservasi gamet, pembentukan
ternak transgenik, cloning dan pembentukan ternak chimera
a. Inseminasi Buatan (IB)
a. Inseminasi Buatan (IB)
Inseminasi Buatan (IB) adalah proses
pemasukan semen (mani) ke dalam saluran reproduksi (kelamin) betina dengan
menggunakan alat buatan manusia. Tujuan penerapan teknologi IB adalah untuk
introduksi/ penyebaran pejantan unggul di suatu daerah yang tidak memungkinkan
untuk kawin alam serta pelestarian plasma nutfah ternak jantan yang diinginkan.
b. Teknologi Transfer Embrio (TE)
Transfer Embrio (TE) merupakan generasi kedua
teknologi reproduksi setelah inseminasi buatan (IB). Teknologi IB hanya dapat
menyebarkan bibit unggul ternak jantan, sedang pada teknologi TE dapat
menyebarkan bibit unggul ternak jantan dan betina. Walaupun demikian,
keuntungan utama yang dapat diperoleh adalah meningkatkan kemampuan reproduksi
ternak betina unggul. Aplikasi TE memerlukan waktu dan biaya yang relatif lebih
singkat dan murah dalam pembentukan mutu genetika yang dikehendaki, sehingga
teknologi ini dapat mempercepat perbaikan mutu ternak dalam rangka meningkatkan
produktivitas ternak. Kemajuan teknologi dibidang TE menyebabkan
terjadinya perubahan perdagangan ternak dari ternak hidup menjadi embrio beku. Teknologi
ini juga telah memungkinkan dihasilkannya anak kembar identik atau lahirnya
anak kembar dari bangsa yang berbeda dan tipe yang berbeda, menghasilkan anak
yang diketahui jenis kelaminnya, menghasilkan anak dari hasil pembuahan dalam
tabung (in vitro fertilization), menghasilkan hewan chimera,
kebuntingan interspesies, dihasilkannya ternak transgenik,
pengobatan infertilitas dan pengendalian penyakit.
c. TEKNOLOGI PROSESSING SEMEN (PEMISAHAN
SPERMATOZOA X DAN Y)
Pemanfaatan teknologi sexing spermatozoa
merupakan salah satu pilihan yang tepat dalam rangka peningkatan efisiensi
reproduksi ternak yang mampu meningkatkan efisiensi usaha peternakan baik dalam
skala peternakan rakyat maupun dalam skala peternakan komersial. Salah satu
sasaran dalam bidang reproduksi ternak adalah memproduksi anak yang mempunyai
jenis kelamin sesuai dengan keinginan peternak. Sebagai contoh, peternak sapi
perah lebih mengharapkan sapi betina dari suatu kelahiran daripada sapi jantan,
sebaliknya peternak sapi potong lebih mengharapkan kelahiran sapi jantan dari
pada sapi betina. Berbagai penelitian yang telah dilakukan untuk mengontrol
jenis kelamin anak ternak dari suatu kelahiran agar sesuai dengan keinginan
peternak. Penelitian dimulai dengan pengkondisian saluran reproduksi ternak
betina agar lingkungan itu menjadi lebih baik bagi spermatozoa X daripada
spermatozoa Y atau sebaliknya. Selanjutnya pemisahan spermatozoa X dan
spermatozoa Y sebelum dilakukan IB atau IVF (In Vitro Fertilization).
d.
TEKNOLOGI CRIOPRESERVASI
GAMET (SPERMATOZOA DAN OVA)
Criopreservasi adalah suatu penyimpanan gamet dalam waktu
lama yang dilakukan dalam bentuk beku pada suhu -196oC (dalam nitrogen cair)
dalam media dengan penambahan crioprotectan. Pada saat tersebut sel
dalam keadaan “ditidurkan”, sehingga metabolisme sel terhenti, tetapi
masih mempunyai kemampuan hidup setelah sel tersebut “dibangunkan” kembali
dengan mencairkan dan mengkultur pada kondisi tertentu secara optimum.
e.
PEMBENTUKAN
TERNAK TRANSGENIK
Transfer materi genetik dengan teknologi
rekombinan DNA merupakan suatu metode penemuan baru untuk menghasilkan ternak transgenik.
Ternak transgenik memperlihatkan bermacam-macam fenotipe baru melalui
ekspresi molekul DNA eksogen. Ternak transgenik dihasilkan dengan injeksimikro
gen ke dalam pronukleus sesaat setelah fertilisasi dan sebelum
terjadi pembelahan pertama zigot, selanjutnya ditanam di dalam rahim induk
pengganti.
Para ilmuwan telah menggunakan
teknologi tersebut mengembangkan ternak transgenik misalnya babi transgenik
yang mempunyai laju pertumbuhan yang tinggi dan kualitas daging yang baik
dan juga telah menghasilkan domba transgenik yang mempunyai bulu yang
tebal. Di Inggris telah dihasilkan babi transgenik yang genetiknya telah
diubah sehingga mempunyai bahan-bahan genetik manusia. Embrio babi tersebut
telah disuntik bahan genetik manusia, sehingga dapat menghasilkan protein
manusia. Hal ini berarti bahwa suatu saat, organ babi dewasa dapat ditransplantasikan
ke manusia. Biasanya tubuh manusia akan menolak dengan cepat organ-organ yang
bukan berasal dari tubuh manusia, tetapi dengan terdapatnya protein manusia
akan memperkecil kemungkinan penolakan terhadap organ yang ditransplantasikan. Pada
hewan menyusui, kelenjar mammae adalah target utama untuk teknologi transgenik
ini. Laktoferin merupakan protein yang terdapat dalam air susu ibu merupakan
bahan makanan bernutrisi bagi bayi. Laktoferin merupakan sumber zat besi
dan protein terbaik dan juga mengakibatkan kekebalan alami terhadap penyakit.
Air susu ibu tidak selalu tersedia bagi bayi, sehingga para peneliti merancang
untuk mengembangkan sapi perah jantan transgenik yang membawa gen laktoferin.
Para peneliti tersebut berhasil menyisipkan gen laktoferin manusia ke
dalam embrio sapi. Embrio tersebut berkembang menjadi “HERMAN “ sapi
jantan transgenik dan telah menjadi bapak dari 8 ekor anak sapi betina transgenik
yang dapat menghasilkan produksi air susu mirip dengan air susu ibu.
F.Kloning
Cloning sebelumnya dihasilkan dari sel-sel yang diambil
dari jaringan embrio dan janin. Pada Februari tahun 1997 telah lahir domba
hasil cloning yang dilakukan oleh tim ilmuwan Roslin Institute di
Scotlandia, domba ini diberi nama Dolly. Dolly tidak diproduksi secara normal (perkawinan
antara domba betina dan domba jantan). Dolly dicloning dari satu sel
yang berasal dari bukan organ reproduksi, akan tetapi berasal dari jaringan
ambing (kelenjar mammae) domba betina yang berumur enam tahun. Teknologi
ini menunjukkan bahwa sel dewasa yang telah berkembang menjadi sel yang telah
mempunyai fungsi khusus seperti sel jaringan ambing (mammae) dapat dikembalikan
ke bentuk semula dan sel tersebut tumbuh menjadi organisme. Dolly dihasilkan
dari sel yang diambil dari ambing domba betina Finn Dorset,yang kemudian
dibiarkan tumbuh dan menggandakan diri di laboratorium. Sejumlah kecil dari sel
itu digabungkan dengan telur yang telah dibuahi yang inti selnya telah diambil.
Sel telur yang telah direkonstruksi ini masing-masing dengan inti dari domba betina
asal (Finn Dorset), lalu ditanamkan ke dalam induk titipan domba betina Scotish
Blackface. Salah satunya melahirkan seekor domba hidup yang kemudian
diberi nama Dolly, sekitar 148 hari kemudian. Domba Dolly yang lahir ini mirip/
identik dengan induknya Finn Dorset.
Teknologi cloning ini masih
jauh dari sempurna. Dolly adalah anak domba yang satu-satunya lahir dari 227 oosit
yang digabung dengan sel ambing. Untuk tujuan tertentu, kloning harus dapat
diulang-ulang agar lebih ekonomis. Bila cloning ini dapat diulang-ulang,
dua kesempatan baru yang benar-benar tersedia. Pertama, dengan cloning
dapat diperoleh sejumlah besar keturunan yang secara genetik sama yang diperoleh
dari sel-sel hewan dewasa yang mempunyai sifat unggul. Hal ini memungkinkan
memproduksi sekelompok ternak dengan penampilan sama. Cloning ternak
sangat berguna dalam penelitian terutama untuk mengeliminir variasi faktor genetik.
Kedua, dengan cloning sementara sel masih dikultur, sangat
memungkinkanuntuk merubah/ menambah genetik yang dikehendaki (mis, tahan
terhadap penyakit) sebelum sel digunakan untuk produksi clon. Dengan
teknologi cloning, bila clon itu sempurna, ia kemudian akan
bereproduksi dalam jumlah besar secara cepat dan murah dengan jaminan kualitas
yang tidak berubah (Tappa, 1998b). Satu hal yang berbahaya yang dapat t
bila teknologi cloning berkembang dan diadopsi pada skala besar, yaitu
resiko bila sekelompok cloning tersebut mudah terkena infeksi oleh
penyakit yang sama atau masalah yang lain.Keragaman merupakan suatu elemen yang
diperlukan oleh alam, oleh sebab itu cloning tampaknya hanya akan digunakan
untuk tujuan terbatas dalam hal pemuliaan untuk meningkatkan mutu genetik ternak.
f.
PEMBENTUKAN
TERNAK CHIMERA
Ternak chimera dibentuk dengan
cara meramu blastomer berbagai jenis ternak. Sel-sel dari beberapa
embrio dapat digabungkan dalam suatu zona pelucida untuk menghasilkan
seekor hewan yang merupakan kombinasi dari beberapa hewan yang telah digabung.
Misalnya anak sapi chimera dihasilkan dengan menggabungkan blastomer dari
Bos taurus (sapi Eropah) dan Bos indicus (sapi India), kemudian dialihkan
ke resipien untuk dikandung sampai lahir. Demikian pula antara domba dan kambing,
dengan prosedur yang sama telah dilahirkan turunan berbadan domba berwajah
kambing. Komposisi tubuh maupun fenotipe ternak chimera ditentukan oleh jumlah
blastomer dari masing-masing jenis yang telah diramu. Proses ini masih
terus dalam proses penelitian, memerlukan biaya yang mahal, dan memakan waktu
yang panjang. Prosedurnya juga jauh lebih sulit dari pembelahan embrio, karena
pada dasarnya melibatkan teknik bedah mikroskopis.
Demikianlah perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi (IPTEK) di bidang reproduksi ternak tersebut yang
dapat diaplikasikan pada subsektor peternakan untuk meningkatkan populasi,
produksi dan produktivitas ternak baik secara kualitas maupun kuantitas. Namun,
yang menjadi kendala dalam pemanfaatan dan aplikasi teknologi tersebut terutama
di negara-negara berkembang seperti di Indonesia adalah keterbatasan dalam hal
peralatan dan dana serta tenaga ahli yang terampil. Khusus di Indonesia,
aplikasi kemajuan mutakhir di bidang teknologi reproduksi ternak itu, yang
banyak dilaksanakan ke petani peternak baru sampai pada tahap penggunaan
inseminasi buatan (IB) dan transfer embrio (TE). Sedangkan
tahap-tahapselanjutnya seperti prosessing semen, fertilisasi in vitro,
dan teknologi rekayasa genetik lainnya masih dalam tahap pengembangan oleh
Balai-balai dan Lembaga-lembaga penelitian.
KESIMPULAN
Perkembangan IPTEK di bidang
reproduksi ternak dapat diaplikasikan di subsektor peternakan untuk
meningkatkan populasi, produksi dan produktivitas ternak baik secara kualitas
maupun kuantitas, antara lain teknologi inseminasi buatan (IB), transfer embrio
(TE), prosessing semen (pemisahan permatozoa X dan Y), fertilisasi in vitro,
teknologi criopreservasi gamet (spermatozoa dan ova), pembentukan ternak
transgenik, cloning dan chimera. Pemanfaatan teknologi reproduksi
ternak tersebut memerlukan dukungan peralatan yang memadai dan dana yang cukup
serta tenaga ahli yang terampil, sehingga menjadi kendala negara-negara
berkembang seperti Indonesia. Aplikasi kemajuan mutakhir di bidang biologi
reproduksi yang banyak dilaksanakan oleh petani peternak di Indonesia baru
sampai pada tahap inseminasi buatan (IB) dan transfer embrio (TE).
DAFTAR PUSTAKA
T. 2002a. Teknologi
Reproduksi Inseminasi Buatan. Makalah Kursus
Singkat
Teknik Biologi Reproduksi dalam Meningkatkan Produktivitas Ternak
Kerjasana
Fakultas Peternakan Unhas dengan Dirjen Dikti Depdiknas.
Fakultas
Peternakan Unhas, Makassar.
Batosamma,
T. 2002b. Teknologi Reproduksi Transfer Embrio. Makalah Kursus Singkat
Teknik
Biologi Reproduksi dalam Meningkatkan Produktivitas Ternak
Kerjasana
Fakultas Peternakan Unhas dengan Dirjen Dikti Depdiknas.
Fakultas
Peternakan Unhas, Makassar.
Saili,
T., M.R. Toelihere, A. Budiono, B. Tappa. 1998. Pengendalian Jenis Kelamin
Anak
Melalui Sexing Spermatozoa Untuk Reproduksi Ternak. Warta Biotek
Tahun
XII No. 1 – 2 (Maret – Juni) : 1- 5.
Sonjaya,
H. 2002. Teknologi Rekayasa Genetik dan Aplikasinya untuk Meningkatkan
Produktivitas
Ternak. Makalah Kursus Singkat Teknik
Biologi Reproduksi
dalam
Meningkatkan Produktivitas Ternak Kerjasana Fakultas Peternakan
Unhas
dengan Dirjen Dikti Depdiknas. Fakultas Peternakan Unhas, Makassar.
Sumbung,
F.P. 1989. Prospek Teknologi Alih Mudigah (Embryo Transfer) Dalam
Rangka
Meningkatkan Produktivitas Ternak Di Indonesia.
Pidato Penerimaan
Jabatan
Guru Besar dalam Ilmu Reproduksi Ternak pada Fakultas Peternakan
UNHAS,
Universitas Hasanuddin, Ujung Pandang.
_____________.
2002. Teknologi Repoduksi Ternak. Makalah Kursus Singkat Teknik
Biologi
Reproduksi dalam Meningkatkan Produktivitas Ternak Kerjasana
Fakultas
Peternakan Unhas dengan Dirjen Dikti Depdiknas. Fakultas
Peternakan
Unhas, Makassar
Susilawati,
T. 2002. Teknologi Preservasi dan Kriopreservasi Spermatozoa dan Ova.
Makalah
Kursus Singkat Teknik Biologi Reproduksi dalam Meningkatkan
Produktivitas
Ternak Kerjasana Fakultas Peternakan Unhas dengan Dirjen
Dikti
Depdiknas. Fakultas Peternakan Unhas, Makassar.
Tappa,
B. (?). Penuntun Pelatihan Transfer Embrio Pada Sapi. Pusat Penelitian
Bioteknologi-LIPI,
Bogor.
Tappa,
B. 1998a. Ternak Trasngenik dan Manfaatnya. Warta Biotek Tahun XII No. 1
–
2
(Maret – Juni) : 9 – 12.
Tappa,
B. 1998b. Kloning Mamalia : Kesempatan Baru dalam Bidang Peternakan.
Warta
Biotek Tahun XII No. 1 – 2 (Maret – Juni) :
12 - 13
Terimakasih .. Berita yang bermanfaat
BalasHapus